Monday, April 9, 2012

1,5 Jam Agar Kelas Kita Tidak Kalah W.O

Hari ini senin. 9 April, 2012.
Siang tadi ada jarkom.
Katanya, kelas kami tanding voli jam 15.00, dan kami kumpul di parkiran mobil jam 14.30.

14.40. Gue siap2 berangkat ke parkiran mobil di kampus. Ada semangat, untuk memberikan sesuatu untuk kelas ini.

14.43 Gue berangkat. Langit menggelap. Mungkin akan hujan. Tapi gue masih yakin untuk bisa menyalurkan semangat ini.

14.45. Mulai ada gerimis. Gue masih jalan di sela-sela rumah di kalimongso. Ada rasa pesimis tentang kedatangan teman-teman lain.

14.53. Hujan deras. Gue udah di parkiran motor kampus. Melihat ke sekitar parkiran mobil. Ga ada teman kelas. Rasa pesimis semakin besar.

15.00. Gue kirim sms menanyakan keberadaan mereka. Dengan prasangka baik kalau mereka juga pasti semangat dan datang setidaknya sebelum hujan ini turun.

15.05. Sms masuk beriringan. Hampir semua jawaban sama. "Gue masih di kosan"

15.07. Hujan semakin deras. Ada angin di sela-sela hujan itu. Gue? Sendirian. Duduk di motor orang. Liatin genangan air.

15.30 Hujan masih deras. Tapi gue optimis, setidaknya ada yang punya semangat sama seperti gue, dan datang, siap bermain untuk kelas ini.

15.35. Masih hujan. Belum ada 1 pun teman yang datang. Rasa pesimis dan kecewa mulai menghampiri. Entahlah.

15.37. Hujan mulai mereda. Gerimis pelan. Gue kirim sms ke salah satu teman yang lagi ada di kosan panitia untuk memastikan jadi atau tidak pertandingan voli nya. Jika nantinya ga jadi, setidaknya Gue bisa pulang dibawah gerimis yang masih mengguyur.

15.45 Hujan masih mereda. Belum ada balasan kepastian pertandingan. Gue masih optimis, dan sisa semangat itu masih ada.

15.50. Hujan mulai turun lagi. Belum ada konfirmasi sms apapun. Rasa pesimis dan kecewa mencapai puncak.

15.59. Gerimis lebat.

16.00 Ada sms masuk yang bilang kalau pertandingan hari ini BATAL.

16.01. Berjalan pulang di bawah gerimis.

Entah gue harus kecewa, senang, marah, atau justru sedih.

Gue kecewa, sms konfirmasi BATAL datang sebegitu lamanya.
Gue senang, hari itu ga jadi tanding di bawah guyuran hujan, khawatir akan membahayakan.
Gue marah, gue marah sama diri sendiri entah karena sebab apa.
Gue sedih. Sedih karena entah kenapa merasa seperti dipermainkan.


Gue cuma ga mau kelas ini kalah W.O.
Karena Gue paling ga suka, kalah ketika belum berusaha.

Kata Ummi,
"Kekalahan yang paling ga mengenakkan, justru adalah kalah ketika kita belum berusaha"

Dan hikmah dari hari ini adalah,
Jangan membuat orang lain menunggu. Menunggu itu membosankan.




Terima kasih untuk seseorang yang mau menemani gue, walaupun cuma lewat sms.
Itu sangat berharga.
Terima kasih banyak.





Catatan : ini hanya sedikit curahan hati. Maaf jika kurang berkenan, kawan. Semoga semangat untuk kelas ini masih ada.

Wednesday, February 1, 2012

Love And Publication. Know The Difference.

Ketika cinta dan publikasi kau jadikan satu,

Sadarkah, wahai kau yang sedang senang dengan cintamu itu, bahwa dalam keadaan mu sekarang, semua tidak ada yang pasti?
Sadarkah, wahai kau yang sedang tersenyum dengan cintamu itu, bahwa bisa saja dia bukan jodohmu?

Hai kau, mungkin sekarang kau ingin mempublikasikan apa yang kau rasakan dengan si dia.
Mungkin kau ingin memberi tahu kepada seluruh dunia kalau kau benar-benar mempunyai rasa dengan si dia.
Mungkin kau ingin semua orang mendengar, membaca, dan melihat, kalau kau selalu ingin bersama nya.

Sadarlah.
Cinta itu butuh privasi.
Sesuatu yang tidak dengan mudah dipublikasi.

Tetap menunduk ketika kau senang.
Cukup kau, dia, dan Tuhan yang tau.

Cinta itu sebuah rahasia.
Yang membuat Cinta begitu ada.
Yang membuat Cinta itu berwarna.
Yang menarik untuk kau rasa.

Ketika kau membuka rahasia itu,
Masihkah dia ada?
Masihkah dia berwarna?
Masihkah kau merasakan arti yang sebenarnya?

Cinta itu sesuatu yang spesial.
Yang tidak semua orang harus mengetahui.

Dan akan semakin spesial,
Ketika hanya kau, dan dia, dan Tuhan,
Yang akan merasakannya.

Karena, sadarlah.
Ada saat yang paling tepat ketika kau akan mempublikasikan cintamu kepada semua orang. Kepada seluruh dunia.

Ketika,
Semua saksi dalam pernikahan itu mengatakan, "sah!"


Berpikirlah 2 kali untuk mempublikasikan cinta mu di mana pun itu, terutama jejaring sosial.

Karena,
Masih banyak cara lebih baik untuk menunjukkannya



(Saya tidak menulis ini dengan rasa iri, dengki, atau semacamnya. Saya hanya ingin menulis apa yang ingin saya tulis)

Cintai seseorang dengan cara yang lebih elegan, buat dia spesial! :)




Dengan kerendahan hati,
Doang.
:)

Saturday, January 7, 2012

Hai kau mahasiswa kost, ADMIT IT! hahaha :D


source : http://yeahmahasiswa.com/post/14650509651/nasib-mahasiswa-yang-males-nyuci-daleman-side-a

Thursday, January 5, 2012

Quote from Patrick Star :)


Be better, Libur, dan Astronot :)

Post pertama di 2012.
Waw. Udah lama gue ga update blog ini.
Post terakhir tanggal 1 Desember 2011
1 Bulan lebih. Cukup lama.
Mungkin karena gue sedang tidak ingin banyak menulis di sini.
Padahal bahan untuk gue tulis di sini sangat banyak.
Ya. Banyak banget.
Yang bahkan gue bingung gimana mau nulisnya.
Atau mungkin, gue sedang mengalihkan seluruh perhatian dan keseharian gue pada sesuatu yang lain.
Yang akhirnya gue ga punya waktu untuk nulis di sini.
Tapi itu bukan masalah.
Justru gue senang.
Karena sesuatu yang sedang mengalihkan gue, membawa gue menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya.
Ya. Jauh-jauh lebih baik.
Gue ga tau apakah ucapan "Terima Kasih" cukup untuk mengungkapkan semua pengaruh postif yang udah dia bawa.
But, really, Thank you very much.

Anyway, gue masih dalam masa liburan akhir-awal tahun.
Hari ini Kamis, berarti masih ada sekitar 4 hari lagi sebelum kembali mulai kuliah.
Dan bertemu dengan kuis-kuis dan tugas-tugas yang.... menyenangkan.

Well, gue mau cerita tentang cita-cita gue.
Ya. Cita-cita yang terdengar aneh dan mungkin akan sangat sulit untuk diwujudkan.
Atau mungkin bisa dikatakan, MUSTAHIL.
Entahlah.
Nothing is Impossible, because IMPOSSIBLE itself says, I’M POSSIBLE.
Haha.

Jadi, cita-cita gue adalah.... Astronot.
Kinda weird, huh?
Ini semua berasal waktu gue masih kecil.
Waktu masih SD, di sebuah ruangan perpustakaan, sang guru bertanya pada anak-anak.
Kira-kira begini percakapannya:

GYTI = Guru yang tidak ingusan
A1YMI = Anak 1 yang masih ingusan
A2YMI = Anak 2 yang masih ingusan
GYMI = Gue yang masih ingusan

GYTI : Sekarang, bapak mau tanya, apa cita-cita kalian... A1YMI, cita-cita kamu apa?
A1YMI : Saya mau jadi dokter, pak!
GYTI: Bagus... Mulia sekali.. Kalau kamu, A2YMI?
A2YMI : Saya mau jadi pilot, pak!
GYTI : Waah.. Mau keliling dunia ya? Bagus... Kalau kamu, Muhammad?

== Jeng jeng jeng.. Gue panik. Sampai saat ditanya, gue ga punya ide, mau jadi apa gue nanti. Akhirnya, ada sebuah buku tentang luar angkasa, dan di sana ada tulisan Astronot. Dan dengan muka polos penuh ingus berceceran di sela-sela hidung dan keringat panik yang mulai berjatuhan bagaikan hujan di tengah badai, gue jawab pertanyaan itu dengan lantang (halah...) :p ==

GYMI = Mau jadi Astronot, Pak!

Ya. Cita-cita untuk jadi seorang astronot yang sampai sekarang menjadi sebuah mimpi dalam hidup gue, berawal dari sebuah kepanikan anak kecil yang ga tau mau jawab apa pertanyaan dari gurunya. Ironisnya, saat gue jawab pertanyaan itu, gue masih ga ngerti dengan benar, apa itu sebenarnya astronot. Tragis.

Tapi itulah unik nya mimpi. Sampai saat SMA, gue masih punya mimpi itu. Pas gue lulus SMA, gue cari jurusan kuliah yang mungkin akan mempermudah gue untuk mendekati mimpi gue itu. Teknik Informatika, salah satunya. Ya, gue sempat diterima masuk di jurusan Teknik Informatika di sebuah universitas.

Jalan pikiran gue saat itu adalah seperti ini.
Kuliah jurusan Teknik Informatika,
Lulus dengan predikat Cum Laude.
Kuliah S2 di luar negeri.
Apply job di NASA.
Dan cari peluang untuk bisa ikut ke, setidaknya, International Space Station.
Haha. Lucu ya. :D

Tapi, ternyata semua tidak seperti yang gue pikirkan.
Sekarang pun, gue ga kuliah di jurusan Teknik Informatika. Karena sebuah alasan dan keputusan yang gue buat sendiri, gue akhirnya memutuskan untuk kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) jurusan Akuntansi. Ya. Perlu gue ulangi, Akuntansi.
Jauh kan? Jauh banget dari cita-cita gue untuk jadi seorang Astronot. Haha.
Ya. Diawal gue kuliah, mungkin gue harus melupakan sejenak mimpi gue itu.
Mungkin akan menjadi sebuah kemustahilan untuk menjadi seorang astronot. Haha. :D

Tapi, seperti yang gue tulis di atas.
Nothing is Impossible, because IMPOSSIBLE itself says, I’M POSSIBLE.
Ya. Tidak ada yang mustahil di dunia ini.
Selama kita punya mimpi, dan kita punya usaha untuk bisa muwujudkan mimpi itu.

Dan gue membuat sebuah jalan pikiran untuk mewujudkan mimpi itu.
Mungkin gue menyebutnya sebagai jembatan mimpi.
Dan jembatan itu adalah seperti ini.
Kuliah D3 di jurusan Akuntansi.
Lulus.
Kuliah S1 jurusan Akuntansi.
Kuliah S2 di luar negeri.
Apply job sebagai Financial Accountant di NASA.
Dan mencari kesempatan di dalam NASA untuk bisa ikut.
Setidaknya ke International Space Station.
Haha. Makin aneh ya? :D

Tapi, jujur, mimpi itu masih hidup sampai saat ini.
Sampai detik ini.

Karena gue yakin, tidak ada yang mustahil di dunia ini selama kita mempunyai mimpi. Ya. Mimpi.

"If we can dream it, we can do it" - Walt Disney